Konglomerasi Media kekuatan dari perusahaan yang
berskala besar dalam memiliki banyak dan jenis media massa sebagai bagian
bisnisnya. Tentu saja konglomerasi media ini sangat tidak sehat dalam iklim
demokrasi mengingat kekuatan media (power full) yang sangat berpengaruh
terhadap masyarakat yang menkonsumsi informasi dari media media tersebut. Dengan
kata lain konglomerasi media dapat di simpulkan suatu propaganda dari si
pemilik media yang mana media di gunakan
untuk alat berpolik dan juga untuk suatu kepentingan pribadi. Berikut ini salah
satu contoh konglomerasi media yang di lakukan oleh salah satu tokoh dunia.
Rupert Murdoch (lahir 11 Maret
1931 di Australia) adalah mogul media multinasional yang penuh kontroversi. Murdoch
berhasil membangun kekaisaran surat kabar dan tabloid yang tersebar dari
Australia, Inggris hingga Amerika Serikat serta berekspansi ke televisi, film,
internet, dan yang paling baru ke pasar berita keuangan. News Corp, perusahaan
induk milik Murdoch, telah menjadi identik dengan namanya.Rupert Murdoch muda
masuk ke Universitas Oxford di mana dia belajar politik dan ekonomi sambil
menulis artikel untuk surat kabar mahasiswa. Setelah kematian ayahnya, Murdoch
mewarisi saham pengendali di News Limited of Adelaide, Australia, yang
menerbitkan The News, sebuah koran lokal.
Pada tahun 1953, Rupert Murdoch
meninggalkan Oxford untuk menjadi managing director News Limited hanya untuk
menemukan ayahnya telah meninggalkan banyak utang. Setelah menjual saham
berbagai surat kabar, Rupert Murdoch akhirnya berhasil meraih sukses termasuk
memiliki majalah mingguan televisi bernama TV Week. Arus kas ekstra membuat
Murdoch mampu meminjam uang untuk membiayai usaha lebih lanjut. Menguasai lebih
banyak koran di sebagian besar Australia, Murdoch juga membeli The Daily
Mirror, sebuah tabloid yang berbasis di Sydney.
Pada tahun 1964, Murdoch
mendirikan koran nasional Australia pertama, The Australian, yang konon
dimaksudkan untuk mendapatkan rasa hormat politik. Pada tahun 1968, Rupert
Murdoch memperluas bisnis ke Inggris dengan memperoleh kendali The News of the
World, surat kabar berbahasa Inggris paling populer pada masanya dengan
sirkulasi internasional lebih dari 6 juta eksemplar. Murdoch juga membeli The
Sun, sebuah majalah Inggris baru untuk kemudian berhasil diubah menjadi sebuah
tabloid sukses. Pada tahun 1973, Rupert Murdoch mulai mengalihkan perhatian ke
Amerika Serikat. Membeli berbagai surat kabar dan majalah, dia lantas
mendirikan tabloid Star dan pada tahun 1976 membeli The New York Post. Murdoch
lantas menjadi warga negara AS pada tahun 1985 untuk kemudian membeli stasiun
televisi Amerika FOX Network yang sangat populer di kalangan pemirsa muda. Menyusul
keberhasilan ini, Murdoch meluncurkan The Fox News Channel pada tahun 1996,
stasiun kabel 24 jam yang dirancang untuk bersaing dengan CNN. Pada tahun 2003,
News Corp membeli 34% saham Hughes Electronics yang memiliki DirecTV ™, sebuah
perusahaan satelit terkemuka. Namun, minat Murdoch di televisi dan satelit
tidak spesifik hanya di Amerika Serikat. BSkyB (perusahaan satelit terkemuka
Inggris), The National Geographic Channel, The History Channel, dan Nickelodeon
tercatat dimiliki sebagian oleh Rupert Murdoch. Stasiun televisi lain yang
berada di bawah bendera News Corp meluas hingga ke Italia, Selandia Baru, Asia,
dan negara-negara lain.
Pada tahun 2005, News Corp
membeli Intermix Media Incorporated, pemilik sosial media populer MySpace. Murdoch
juga mengakuisisi saham IGN Entertainment, sebuah perusahaan berbasis
multimedia video yang memiliki website seperti Askmen, Gamespy, dan
RottenTomatoes. Sementara tidak ada yang meragukan keberhasilan Rupert Murdoch,
namun News Corp disinyalir mengemban pandangan politik Murdoch sendiri. Di
Amerika Serikat, Murdoch dikenal sebagai pendukung pandanga Kristen konservatif
dan Partai Republik. Dia secara terbuka mendukung Ronald Reagan, Pat Robertson
dan George W. Bush dalam pemilihan presiden AS. Sebagian percaya bahwa media di
bawah kepemilikan Murdoch diarahkan untuk mempromosikan agenda konservatif. Dalam
contoh terkenal selama perang Irak tahun 2003, majalah Australia, The Buletin,
yang mewawancarai Murdoch menunjukkan bahwa dia menjadi pendukung perang,
mengutip bahwa penurunan harga minyak sebagai alasan utama.
FOX News Network (FNN), yang
yang memiliki slogan “we report, you decide” juga mendapat kecaman karena
memiliki kecenderungan neo-konservatif dan anti-liberal. Namun Murdoch tak
terbendung. Pada tahun 2007, dia berusaha mengakuisisi Dow Jones dan salah satu
koran paling dihormati di AS, The Wall Street Journal, dengan nilai tawaran US$
5,6 miliar. Menurut laporan FOX awal Agustus 2007, kesepakatan telah dicapai
dan News Corp akan meneruskan pembelian. Dow Jones dikenal memiliki banyak
situs keuangan berpengaruh, termasuk MarketWatch.
Dengan semua pencapaian tersebut, Rupert Murdoch
memposisikan dirinya sebagai raja media yang memiliki jaringan koran, majalah,
televisi, dan situs web yang dibaca miliaran orang. (Sumber:http://www.amazine.co/28091/siapakah-rupert-murdoch-kisah-raja-mediainternasional)
- Konglomerasi Media Di Indonesia
Pada jaman modern seperti
ini konglomerasi media sudah tak asing lagi, bukan hanya Negara-negara besar
yang melakukan penguasaan perusahaan-perusahaan di bidang media, bahkan Indonesia
pun sekarang sudah tak luput dari hal tersebut, banyak media-media Indonesia
yang dimiliki oleh pribadi, menambah terus menerus perusahaan media untuk
memperkuat citra pribadi pun sudah banyak di lakukan oleh media. Dan berikut
contohnya, PT Media
Nusantara Citra,Tbk yang memiliki RCTI, MNC TV, Global TV, Radio Trijaya, Koran
Seputar Indonesia, Okezone.com dan Indovision. MNC Group ini dimiliki oleh Hary
Tanoesoedibyo yang memiliki latar belakang tidak saja sebagai seorang pengusaha
tetapi juga tokoh politik.
Kemudian Visi Media Asia (Viva Group) yang dimiliki oleh
putra Abu Rizal Bakrie yakni Anindya Bakrie yang menaungi Vivanews.com, TV One
dan ANTV. Surya Paloh juga memiliki Metro TV dan Media Indonesia yang bernaung
dibawah Group Media Indonesia. Pemilik dua perusahaan besar ini adalah pelaku
binis dan sekaligus sebagai tokoh politik di Indonesia.
Sementara CT Corp yang sebelumnya bernama Para Group milik
Chairul Tanjung, tidak saja menaungi beberapa perusahaan dibidang Perbankan,
Pasar Modal, Pembiayaan, Asuransi, Perhotelan, Property dan Retail ini juga
memiliki unit usaha media massa. Sebut saja Detik.com, Trans TV dan Trans 7
yang sebelumnya bernama TV 7 milik Kompas Gramedia Group.
Pelaku bisnis media lokal pun seakan tidak ingin
ketinggalan, seperti Riau Pos Group yang dimiliki oleh Rida K Liamsi
ini mememiliki unit bisnis media seperti Koran Harian Pagi Riau Pos, Pekanbaru
Pos, Pekanbaru MX, Dumai Pos, Xpresi Magazine, Riau TV dan Fresh Radio. Dalam
mengembangkan bisnis medianya, Riau Pos Group telah memperluas jaringannya
kebeberapa provinsi di Sumatera. Seperti Batam Pos, Tanjung Pinang Pos,
Posmetro Batam, Batam TV, Padang Ekspres, Posmetro Padang, Padang TV, Triarga
TV, Sumut Pos dan Posmetro Padang.
Singkat kata, nama-nama pemilik media diatas merupakan
orang-orang yang membangun kerajaan bisnis mereka dengan berupaya dekat dengan
kekuasaan. Malah beberapa diantara mereka adalah tokoh politik yang tentunya
memiliki kepentingan dan tujuan. Akibatnya media yang mereka miliki tentunya
lebih mengutamakan informasi dan tayangan menarik ketimbang informasi dan
tayangan yang penting bagi masyarakat.