Kamis, 22 Oktober 2015

Prediksi Perkembangan Teknologi Di Tahun 2050



Perkembangan teknologi memang terbilang sangat pesat, banyak penemuan-penemuan yang tertulis di sejarah menjadikan dunia saat ini benar-benar ketergantungan dengan teknologi itu sendiri, dan bisa di katakan bahwa sangat mustahil bagi manusia era modern seperti sekarang hidup tanpa didampingi dengan teknologi, penemuan-penemuan yang mana tercatat di sejarah seperti penemuan listrik, lampu hingga computer atau gadjet membuat manusia di jaman sekarang sangat pintar dalam mengendalikan suatu teknologi yang ada, yang mana tentunya kemajuan di bidang teknologi akan terus menerus melaju tiada akhir, mengupdate teknologi yang sudah ada untuk menciptakan teknologi terbaru.

  • ·       Perkiraan teknologi di tahun 2050

Kecanggihan teknologi di jaman sekarang pasti akan membuat manusia mengembangkan teknologi yang sudah ada dengan menghasilkan teknologi yang baru dengan kecerdasan yang mereka miliki, contohnya penemuan HP yang bertahap dari yang awal hanya di gunakan untuk menelepon sampai sekarang yang mana HP dapat digunakan untuk segala hal, selain itu penemuan internet dan masih banyak lagi. Mengingat saat ini kereta bawah tanah sudah dapat di jumpai di mana-mana, tentunya ide akan selalu di kembangkan, mungkin saja di tahun 2050 akan ada kereta antar benua, tentunya dengan adanya kereta antar benua ,transportasi di dunia saat ini tidak hanya menggunakan kapal terbang saja, dengan adanya kereta antar benua justru itu akan lebih membuat seseorang lebih menikmati perjalanan mereka karena dalam suatu pemberangkatan tentunya hal pertama yang dapat di nikmati adalah perjalanan mereka.

Tapi semua itu hanya perkiraan saja belum tentu adanya, namun mengingat sifat manusia yang selalu mengupdate suatu hal, bukan tidak mungkin semua itu akan terjadi. Jadi kita bisa lihat apa saja teknologi-teknologi terbaru yang akan muncul di masa depan.

Rabu, 14 Oktober 2015

Jenis-Jenis Alih Teknologi


  • Forest Direct Investment

Inverstasi jangka panjang yang di tanamkan oeh perusahaan-perusahaan asing, yang mana Investor memegang kendali Atas pengelolaan untuk menarik Inverstor asing lainya, penanaman modal jangka panjang di Negara-negara dunia ketiga yang mana mejalankan kebijakan liberalisasi dan meminimalkan adanya campur tangan dari pihak pemerintah. Dan contoh kasus dari Forest Direct Investment adalah penanaman saham dan investasi PT Priport di tanah papua yang mana PT tersebut menguasai tambang emas  yang sanga jelas akan menguntungkan pihak investor yang menanamkan saham di PT Triport, tambang emas yang di jalankan oleh PT Priport adalah salah satu contoh forest direct investmen yang terjadi di Indonesia.
  • Join Ventures
Kerja sama antara perusahaan asing dengan perusahaan di Indonesia dengan maksud menjcari suatu keuntungan, dalam hal ini kepemillikan diperhitungkan dari kepemilikan saham yang dimiliki. Dan selain itu investasi semacam ini di lakukan untuk menghindari terjadinya nasionalisme atas perusahaan, dan contoh dari Join Ventures adalah kerja sama perguruan tinggi swasta atau negri dengan perguruan tinggi dari Negara lain, seperti pertukaran pelajar dan sebagainya, namun sejauh ini pemegang saham dari pihak Indonesia tidak mempatenkan saham mereka, dan pemerintah mencoba untuk mengatasi kekhawatiran investor terhadap teknologi lokal yang di patenkan pemerintah akan menjamin kegagalan yang di sebabkan oleh teknologi lokal yang di patenkan.
  • Licensing Agreements
Ijin Dari sebuah perusahaan untuk memakai nama, branded atau produk mereka dan keahlian-keahlian serta karyawan kepada perusahaan-perusahaan lain atau perseoranganl. Contoh dari licensing agreement adalah pemakaian nama Indomart atau lebih jelasnya mengtake over dengan membeli nama Indomart kepada pemilik perusahaan indomart, dengan kata lain si pemilik modal memberi sejumlah uang dan si pemillik modal otomatis mendapatkan nama tersebut dengan jangka waktu tertentu, tidak ada system bagi hasil antara pemilik perusahaan dan si pemilik modal.
  • Turnkey Project
Membangun Infastruktur dan kontruksi yang dibutuhkan oleh perusahaan asing di Negara dunia ketiga dengan menyelenggarakan proses produksi di Negara tersebut, contoh dari Turnkey Project adalah penanaman modal yang di lakukan perusahaan-perusahaan jepang seperti Honda atau Yamaha yang mana mereka mendirikan perusahaan di Indonesia, dan memproduksi di Indonesia lalu menjual di Indonesia, mereka mempercayakan perusahaan yang berdiri di Indonesia ke pihak-pihak yang sudah mereka percayai, inti turnkey project adalah membangun perusahaan di Negara asing dan mempercayakan kepada pihak-pihak atau organisasi yang sudah mereka percayai.
  



Selasa, 06 Oktober 2015

Konglomerasi Media, Para Tokoh di Dunia dan Indonesia



Konglomerasi Media kekuatan dari perusahaan yang berskala besar dalam memiliki banyak dan jenis media massa sebagai bagian bisnisnya. Tentu saja konglomerasi media ini sangat tidak sehat dalam iklim demokrasi mengingat kekuatan media (power full) yang sangat berpengaruh terhadap masyarakat yang menkonsumsi informasi dari media media tersebut. Dengan kata lain konglomerasi media dapat di simpulkan suatu propaganda dari si pemilik media  yang mana media di gunakan untuk alat berpolik dan juga untuk suatu kepentingan pribadi. Berikut ini salah satu contoh konglomerasi media yang di lakukan oleh salah satu tokoh dunia.
  • Rupert Murdock

Rupert Murdoch (lahir 11 Maret 1931 di Australia) adalah mogul media multinasional yang penuh kontroversi. Murdoch berhasil membangun kekaisaran surat kabar dan tabloid yang tersebar dari Australia, Inggris hingga Amerika Serikat serta berekspansi ke televisi, film, internet, dan yang paling baru ke pasar berita keuangan. News Corp, perusahaan induk milik Murdoch, telah menjadi identik dengan namanya.Rupert Murdoch muda masuk ke Universitas Oxford di mana dia belajar politik dan ekonomi sambil menulis artikel untuk surat kabar mahasiswa. Setelah kematian ayahnya, Murdoch mewarisi saham pengendali di News Limited of Adelaide, Australia, yang menerbitkan The News, sebuah koran lokal.

Pada tahun 1953, Rupert Murdoch meninggalkan Oxford untuk menjadi managing director News Limited hanya untuk menemukan ayahnya telah meninggalkan banyak utang. Setelah menjual saham berbagai surat kabar, Rupert Murdoch akhirnya berhasil meraih sukses termasuk memiliki majalah mingguan televisi bernama TV Week. Arus kas ekstra membuat Murdoch mampu meminjam uang untuk membiayai usaha lebih lanjut. Menguasai lebih banyak koran di sebagian besar Australia, Murdoch juga membeli The Daily Mirror, sebuah tabloid yang berbasis di Sydney.

Pada tahun 1964, Murdoch mendirikan koran nasional Australia pertama, The Australian, yang konon dimaksudkan untuk mendapatkan rasa hormat politik. Pada tahun 1968, Rupert Murdoch memperluas bisnis ke Inggris dengan memperoleh kendali The News of the World, surat kabar berbahasa Inggris paling populer pada masanya dengan sirkulasi internasional lebih dari 6 juta eksemplar. Murdoch juga membeli The Sun, sebuah majalah Inggris baru untuk kemudian berhasil diubah menjadi sebuah tabloid sukses. Pada tahun 1973, Rupert Murdoch mulai mengalihkan perhatian ke Amerika Serikat. Membeli berbagai surat kabar dan majalah, dia lantas mendirikan tabloid Star dan pada tahun 1976 membeli The New York Post. Murdoch lantas menjadi warga negara AS pada tahun 1985 untuk kemudian membeli stasiun televisi Amerika FOX Network yang sangat populer di kalangan pemirsa muda. Menyusul keberhasilan ini, Murdoch meluncurkan The Fox News Channel pada tahun 1996, stasiun kabel 24 jam yang dirancang untuk bersaing dengan CNN. Pada tahun 2003, News Corp membeli 34% saham Hughes Electronics yang memiliki DirecTV ™, sebuah perusahaan satelit terkemuka. Namun, minat Murdoch di televisi dan satelit tidak spesifik hanya di Amerika Serikat. BSkyB (perusahaan satelit terkemuka Inggris), The National Geographic Channel, The History Channel, dan Nickelodeon tercatat dimiliki sebagian oleh Rupert Murdoch. Stasiun televisi lain yang berada di bawah bendera News Corp meluas hingga ke Italia, Selandia Baru, Asia, dan negara-negara lain.

Pada tahun 2005, News Corp membeli Intermix Media Incorporated, pemilik sosial media populer MySpace. Murdoch juga mengakuisisi saham IGN Entertainment, sebuah perusahaan berbasis multimedia video yang memiliki website seperti Askmen, Gamespy, dan RottenTomatoes. Sementara tidak ada yang meragukan keberhasilan Rupert Murdoch, namun News Corp disinyalir mengemban pandangan politik Murdoch sendiri. Di Amerika Serikat, Murdoch dikenal sebagai pendukung pandanga Kristen konservatif dan Partai Republik. Dia secara terbuka mendukung Ronald Reagan, Pat Robertson dan George W. Bush dalam pemilihan presiden AS. Sebagian percaya bahwa media di bawah kepemilikan Murdoch diarahkan untuk mempromosikan agenda konservatif. Dalam contoh terkenal selama perang Irak tahun 2003, majalah Australia, The Buletin, yang mewawancarai Murdoch menunjukkan bahwa dia menjadi pendukung perang, mengutip bahwa penurunan harga minyak sebagai alasan utama.

FOX News Network (FNN), yang yang memiliki slogan “we report, you decide” juga mendapat kecaman karena memiliki kecenderungan neo-konservatif dan anti-liberal. Namun Murdoch tak terbendung. Pada tahun 2007, dia berusaha mengakuisisi Dow Jones dan salah satu koran paling dihormati di AS, The Wall Street Journal, dengan nilai tawaran US$ 5,6 miliar. Menurut laporan FOX awal Agustus 2007, kesepakatan telah dicapai dan News Corp akan meneruskan pembelian. Dow Jones dikenal memiliki banyak situs keuangan berpengaruh, termasuk MarketWatch.
Dengan semua pencapaian tersebut, Rupert Murdoch memposisikan dirinya sebagai raja media yang memiliki jaringan koran, majalah, televisi, dan situs web yang dibaca miliaran orang. (Sumber:http://www.amazine.co/28091/siapakah-rupert-murdoch-kisah-raja-mediainternasional)
  • Konglomerasi Media Di Indonesia
Pada jaman modern seperti ini konglomerasi media sudah tak asing lagi, bukan hanya Negara-negara besar yang melakukan penguasaan perusahaan-perusahaan di bidang media, bahkan Indonesia pun sekarang sudah tak luput dari hal tersebut, banyak media-media Indonesia yang dimiliki oleh pribadi, menambah terus menerus perusahaan media untuk memperkuat citra pribadi pun sudah banyak di lakukan oleh media. Dan berikut contohnya, PT Media Nusantara Citra,Tbk yang memiliki RCTI, MNC TV, Global TV, Radio Trijaya, Koran Seputar Indonesia, Okezone.com dan Indovision. MNC Group ini dimiliki oleh Hary Tanoesoedibyo yang memiliki latar belakang tidak saja sebagai seorang pengusaha tetapi juga tokoh politik.

Kemudian Visi Media Asia (Viva Group) yang dimiliki oleh putra Abu Rizal Bakrie yakni Anindya Bakrie yang menaungi Vivanews.com, TV One dan ANTV. Surya Paloh juga memiliki Metro TV dan Media Indonesia yang bernaung dibawah Group Media Indonesia. Pemilik dua perusahaan besar ini adalah pelaku binis dan sekaligus sebagai tokoh politik di Indonesia. 




Sementara CT Corp yang sebelumnya bernama Para Group milik Chairul Tanjung, tidak saja menaungi beberapa perusahaan dibidang Perbankan, Pasar Modal, Pembiayaan, Asuransi, Perhotelan, Property dan Retail ini juga memiliki unit usaha media massa. Sebut saja Detik.com, Trans TV dan Trans 7 yang sebelumnya bernama TV 7 milik Kompas Gramedia Group.


Pelaku bisnis media lokal pun seakan tidak ingin ketinggalan, seperti Riau Pos Group yang dimiliki oleh Rida K Liamsi ini mememiliki unit bisnis media seperti Koran Harian Pagi Riau Pos, Pekanbaru Pos, Pekanbaru MX, Dumai Pos, Xpresi Magazine, Riau TV dan Fresh Radio. Dalam mengembangkan bisnis medianya, Riau Pos Group telah memperluas jaringannya kebeberapa provinsi di Sumatera. Seperti Batam Pos, Tanjung Pinang Pos, Posmetro Batam, Batam TV, Padang Ekspres, Posmetro Padang, Padang TV, Triarga TV, Sumut Pos dan Posmetro Padang. 

Singkat kata, nama-nama pemilik media diatas merupakan orang-orang yang membangun kerajaan bisnis mereka dengan berupaya dekat dengan kekuasaan. Malah beberapa diantara mereka adalah tokoh politik yang tentunya memiliki kepentingan dan tujuan. Akibatnya media yang mereka miliki tentunya lebih mengutamakan informasi dan tayangan menarik ketimbang informasi dan tayangan yang penting bagi masyarakat.